Rabu, 26 Oktober 2016








Masih Di Bawah Umur
Seminggu yang lalu, tepatnya pada akhir pekan, saya tidak sengaja melihat video di Youtube yang memutar lagu anak. Sayangnya, lagu-lagu anak yang tidak sesuai pada tempatnya ini dapat di dengar bebas berjuta anak Indonesia. Lagu anak di zaman modern cenderung bertema tentang cinta. Berbeda dengan lagu- lagu anak pada tahun 90-an yang memiliki nilai pendidikan dan nilai positif. Anak- anak sekarang cenderung mendengarkan lagu cinta atau lagu-lagu yang seharusnya ditujukan untuk orang dewasa.
Save lagu anak                                                                     
Hari ini saya akan menceritakan lagu-lagu anak yang saya dengar itu, tetapi lebih kepada bagaimana pikiran saya terusik melihat anak kecil menyanyikan dan mendengarkan  lagu yang tidak layak untuk mereka dengar dan nyanyikan.
Banyak sekali lagu-lagu bertemakan cinta yang dinikmati oleh anak kecil. Biasanya lagu tersebut bergendre pop, dangdut, bahkan rock. Terkadang mereka tidak hanya menyukai lagunya, namun juga penyanyinya, bahkan sebagian suka dengan goyangan khasnya (jika bergenre dangdut). Hal tersebut membuat saya heran, mengapa lagu anak zaman sekarang kurang layak dan kurang mendidik. Indonesia sudah krisis lagu anak yang mendidik. Lagu-lagu anak dengan lirik positif seperti lagu anak zaman dahulu telah lenyap. Kini  berganti dengan lagu anak-anak yang menyanyikan lagu dewasa yang miris dengan lirik yang jauh dari usia anak-anak.
Seperti salah satu lagu yang saya lihat di media social yang berjudul “Lelaki Kardus” yang dinyanyikan anak perempuan bernama Nova Rizqi Romadhon. Lagu Nova ini diupload di situs berbagi video YouTube. Komentar netizen pun beragam. Ada yang mengecam, marah ada juga yang tertawa sekaligus iba melihat Nova. Karena lagu yang dinyanyikannya menceritakan tentang seorang bapak yang selingkuh dan meninggalkan istri serta anaknya. Berikut adalah penggalan lirik lagu “Lelaki Kardus”;

“ Bapakku kawin lagi, aku ditinggalin, ibuku diduain. Ibuku minta cerai tapi dipukulin ,” Itulah isi sebagian lirik awal dari lagu Nova. Bukan hanya itu, lagu bergenre dangdut itu berisi cacian sang anak pada ayahnya yang jelas-jelas tak mendidik. Tidak hanya Nova dalam video klip sederhana itu.

Ada juga beberapa bocah yang menjadi back vocalnya dan sama-sama mengumpat dan mencaci dalam lagu itu.
“ Lelaki kardus, lelaki mencret, lelaki kencrot, lelaki bangkrut, lelaki bangsat ,” terdengar senandung lagu para bocah di dalam lagu itu. Lagu anak ini terkesan sarkasme dan langsung dilihat oleh sekitar 12 ribu viewer .
Musnah sudah lagu anak yang menggemaskan dan mendidik berganti tema galau dan percintaan. Lagu tersebut menurut saya mengajarkan tentang kemarahan dan ucapan kasar yang seharusnya tidak pantas didengar anak-anak.
Hal tersebut membuat saya tidak mengerti, saya pun melampiaskannya ke media social. Saya menulis, apa sebaiknya ada acara khusus yang memutar ulang lagu-lagu anak tahun 90an, atau lagu-lagu anak yang mendidik, agar anak dapat menyanyikan lagu tersebut dan mendengarkannya. Atau sebaiknya, lagu-lagu anak yang tidak layak dipublikasikan harus ditarik peredarannya. Kemana, lagu-lagu anak yang dapat memberi motivasi?
Seorang berespons dengan apa yang saya curhatkan di media sosial itu. Ia mengatakan, Diperlukan upaya untuk merubah keadaan ini. Peran Komisi Penyiaran diperlukan untuk membatasi lagu-lagu anak yang kurang mendidik.
 Kita semua harus lebih proaktif dalam menjaga anak-anak kita. Karena, mereka adalah generasi penerus bangsa. Kita seharusnya melestarikan lagu anak yang pantas untuk mereka, dan isinya yang mendidik. Kepada para pencipta lagu anak, ayo, tunjukkan kreasi anda untuk anak-anak kita, jangan mau kalah dengan lagu-lagu sekarang.
Rumah dengan Cinta
Maka, saya mulai bergumul dalam pertanyaan. Apa yang seharusnya kita lakukan?
Dalam kasus ini, kita harus sepakat bahwa remaja serta orang dewasa adalah berbeda dari anak-anak. Dari sikap, maupun pola pikirnya. Menurut penelitian, dalam otak anak kecil (umur 1-6 tahun) kemampuan menyerap segala informasi itu masih sangat tinggi, artinya, jika ada informasi baru, maka otak akan segera menangkap dan menyimpannya di memori si anak. Apa akibatnya jika yang tersimpan di memori anak kecil tadi adalah hal-hal seperti lagu-lagu percintaan dan tidak mendidik? Yang seharusnya tak mereka dengar dan simpan di memori? Akan jadi apa bangsa kita ini dimasa depan?
Bagaimana kalau di kemudian hari si anak menjadi remaja yang mulutnya berkata kasar, serta  perilaku yang tak senonohnya direkam dan diunggah ke media sosial?
Apakah orangtua kaget setengah mati mendengar anak remajanya seperti itu, tetapi lupa bahwa mereka memiliki andil terhadap lagu-lagu anak yang diputar di masanya ?
Kepada para orang tua, ajarkan kepada anak-anak hal apa yang boleh dan tidak boleh mereka dengar dan nyanyikan, serta tanamkan juga nilai-nilai agama kepada mereka sejak kecil, agar di masa depan kelak, anak-anak kita menjadi seorang pemimpin yang tangguh dan berwibawa untuk membawa bangsa kita menuju masa depan yang lebih cerah. Semoga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar